SPIRITUALISME LAKON PARTADEWA DALAM SERAT CENTHINI
SPIRITUALISM OF PARTADEWA LAKON IN SERAT CENTHINI
DOI:
10.26499/wdprw.v53i1.1421Downloads
Abstract
Javanese people regard wayang stories as a guide and a way of life. The guidance or outlook on life is reflected through the puppet characters. The life journeys of the knights who defend the truth, especially the Pandavas, are used as a reference for behavior, especially about spiritual behavior. One such lakon that was popular in the 18th century and around the 1990s was the lakon "Bambang Partadewa". Batara Kamajaya descended into the world to become king of Amarta when the Pandavas disappeared. Batara Kamajaya disguised himself as a human named Partadewa to protect the country of Amarta from the acquisition of Astinapura. There is certainly a belief that divine intervention to such an extent is a reward for those who uphold truth/justice. The spiritual practices pursued by the Pandavas were able to touch the compassion of the Gods to be moved to protect the kingdom of Amarta directly. This research method is descriptive qualitative which emphasizes document study. The theory operated in this research is Saussure’s semiotic theory. The results of the research on Lakon Partadewa present teachings on the type and character of the human soul in the afterlife and the doctrine of messianism.
Orang Jawa mendudukkan cerita wayang sebagai panduan dan pandangan hidup. Panduan atau pandangan hidup tercermin melalui tokoh-tokoh pewayangan. Perjalanan hidup tokoh-tokoh kesatria pembela kebenaran, khususnya para Pandawa dijadikan rujukan perilaku terutama tentang perilaku spiritual. Salah satunya lakon yang pernah populer pada abad 18 dan sekitar tahun 1990-an adalah lakon “Bambang Partadewa”. Batara Kamajaya turun ke dunia menjadi Raja Amarta ketika para Pandawa menghilang. Batara Kamajaya menyamar menjadi manusia bernama Partadewa untuk menjaga negara Amarta dari akuisisi Astinapura. Tentu ada kepercayaan bahwa campur tangan dewa sampai sedemikian rupa merupakan upah bagi orang-orang yang menegakkan kebenaran/keadilan. Laku spiritual yang ditempuh oleh Pandawa mampu menyentuh belas kasih Sang Dewa hingga tergerak untuk melindungi kerajaan Amarta secara langsung. Metode penelitian ini kualitatif deskriptif yang menekankan pada studi dokumen. Teori yang dioperasikan dalam penelitian ini adalah teori semiotika Saussure. Hasil penelitian terhadap Lakon Partadewa bahwa ajaran tentang jenis dan karakter sukma manusia di akhirat dan doktrin tentang mesianisme.
Keywords:
spiritualism, Partadewa, Centhini, mesianismReferences
Aryanto, A., Rochimansyah, Widiyono, Y. 2021. “Kajian Simbolik Cerita Bima Bungkus Atas Kepribadian Orang Jawa” 17 (2): 193–206. https://doi.org/10.36567/aly.v17i2.856
Aryanto, A. 2020. “Logika Spiritual dalam Teks Darmasonya.” Universitas Sebelas Maret Surakarta.
Aryanto, A., Rochimansyah, Sholeh, K., and Setyowati, H. 2021. “Spiritualitas dan Kekuasaan Dalam Lakon Wayang Arjunawiwaha Karya Ki Nartosabdo: Analisis Wacana Kritis Michel Foucault.” Widyaparwa 49 (2): 315–24. https://doi.org/10.26499/wdprw.v49i2.799
Culler, J. 1996. Saussure. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Endraswara, S. 2006. Metode, Teori, Teknik Penelitian Kebudayaan: Ideologi, Epistemologi, dan Aplikasinya. Yogyakarta: Pustaka Widyatama.
Guritno, P. 1988. Wayang: Kebudayaan Indonesia dan Pancasila. Jakarta: UI Press.
Haryono, T. 1998. “Serat Centhini Sebagai Sumber Informasi Jenis Makanan Tradisional Masa Lampau.” Humaniora 8:92–98.
Junanah. 2010. “Kajian Morfosemantis dalam Serat Centhini.” Millah 10 (1): 101–26. https://doi.org/10.20885/millah.vol10.iss1.art7
Kristianto, A. 2021. “Erotika Syeh Amongraga: Kajian Teologi Mistik dan Seksualitas dalam Serat Centhini.” GEMA TEOLOGIKA: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian 6 (2): 197. https://doi.org/10.21460/gema.2021.62.607
Mahdiyah, N & Darmoko. 2019. “Laku dan Pengetahuan Spiritual Ki Ageng Pandhanaran dalam Lakon Wedhare Sadat Tembayat.” Jurnal Kawruh 1 (2): 57–79. https://doi.org/10.32585/kawruh.v1i2.405
Marsaid, A. 2016. “Islam dan Kebudayaan: Wayang Sebagai Media Pendidikan Islam di Nusantara.” Jurnal Kontemplasi 4 (1): 102–30.
Masroer, Ch. Jb. 2015. “Spiritualitas Islam dalam Budaya Wayang Kulit Masyarakat Jawa dan Sunda.” Jurnal Ilmiah Sosiologi Agama 9 (1): 38–61. https://doi.org/10.14421/jsa.2015.091-03
Molen, W Van der. 2011. Kritik Teks Jawa: Sebuah Pemandangan Umum dan Pendekatan Baru Yang Diterapkan Kepada Kunjarakarna. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.
Mulyono. 1989. Wayang dan Filsafat Nusantara. Jakarta: Gunung Agung.
Murwati, R. 2018. “Serat Centhini dalam Masyarakat Jawa (Tinjau Resepsi Sastra).” Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Metalingua. https://doi.org/10.21107/metalingua.v3i1.7032
Pardi, et al. 2023. “Comparison Between Sheikh Amongraga’s and Tambangraras’ Actions in Serat Centhini and The Novel of Centhini: Kekasih Yang Tersembunyi.” In Proceeding of 3rd Internasional Conference on Implementing Religious Values on Transdisciplinary Studies for Human Civilization, 210–20. https://doi.org/10.24090/icontrees.2023.695
Poespaningrat, P. 2005. Nonton Wayang dari Berbagai Pakeliran. Yogyakarta: PT. BP KR.
Pramulia, P. 2019. “Sinkretisme Dalam Serat Centhini Jilid I Karya Sri Susuhanan Pakubuwana V.” Fonema 2 (2): 144–59. https://doi.org/10.25139/fn.v2i2.1812
Ratna, Y.K. 2010. Metodologi Penelitian: Kajian Budaya dan Ilmu Sosial Humaniora Pada Umumnya). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Sobur, A. 2013. Semiotika Komunikasi. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Sunarto. 1989. Wayang Kulit Purwa Gaya Yogyakarta: Sebuah Tinjauan Tentang Bentuk, Ukiran Sunggingan. Jakarta: Balai Pustaka.
Susilo, J. 2022. “Ketahanan Kesehatan Masyarakat Melalui Herbal Habbit: Analisis Isi Pengobatan Tradisional dalam Serat Centhini.” Satwika : Kajian Ilmu Budaya Dan Perubahan Sosial 6 (1): 110–25. https://doi.org/10.22219/satwika.v6i1.20193
Sutrisno, BA. 1977. Naskah Lama Daerah Jawa Timur: Kunjara Karna II. Jakarta: Proyek Pengembangan Media Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Wibawa, S. 2013. “Nilai Filosofi Jawa dalam Serat Centhini.” Litera 12 (2): 328–44. https://doi.org/10.21831/ltr.v12i02.1546
Widiyarti, A. 2013. “Serat Centhini, Sebuah Kompleksitas Kesusastraan Jawa Yang Mumpuni.” Lensa 3 (2): 67–76. https://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa/article/view/2725/pdf.
License
Copyright (c) 2025 Widyaparwa

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.


