Abstract
Setiap bahasa di dunia memiliki cara untuk mengungkap kausatif. Comrie (1988) menyebutkan bahwa konstruksi kausatif selalu berisi dua komponen situasi, yaitu situasi penyebab (causer) dan akibat (effect).Situasi itu dapat diungkap dengan tiga cara, yaitu leksikal, morfologi, dan sintaksis. Dari penerapan teori itu yang dibantu dengan metode agih (Sudaryanto, 1993) didapatkan bahwa kausatif bahasa Bali terjadi secara leksikal melalui verba tertentu seperti verba nga'membuat', secara sintaksis dengan verba kompleks dan penghubung kerana 'karena', dan secara morfologi dengan afiksasi (-ang) pada verba takkausatif transitif, misalnya ngadas 'memelihara' -->ngadasang 'memeliharakan ... kepada '.
Â
Every language in the world has its way to reveal causative. Comrie (1988) mentions that causative construction always contains two situational components, that is causer and effect. Situation could be explained with lexically, morphologically, and syntactically. The research with distributive method (Sudaryanto, 1993) shows that causative in Bali language occurs lexically through particular verbs nga/strong> 'to make', syntactically through complex verbs and conjunction kerana'because', and morphologically through affixation (-ang) on transitive verbs, like ngadas 'to maintain --> ngadasang 'to maintain... to. . .'.


