POTENSI CERITA ANAK SEBAGAI PENGUAT PENDIDIKAN KARAKTER BANGSA
DOI:
10.26499/wdprw.v51i1.797Downloads
Abstract
This study aims to: 1 analyze the values of character education contained in the eight stories of children stu-died; 2 look for practical ways so that the values of character education are easily conveyed to kindergarten children B. This study uses a structuralism approach that is focused on characterization elements. While the method used is descriptive analytical. The results of this study indicate that the eight children stories studied contained elements of character education such as the need to care or help others, be honest, be creative, want to apologize to others, and cooperate. The values of character education reflected in the figures of the eighth story of children's stories deserve to be known and emulated by the students. Such excellence and quality of children's stories are needed by children. In order for the values of character education to be easily accepted by students, a teacher must have special ways such as language must be communicative, interesting, involve the emotions of students, use teaching aids, and give special emphasis on interesting events to invite students' attractiveness.
Penelitian ini bertujuan untuk 1 menganalisis nilai-nilai pendidikan karakter yang terkandung dalam delapan cerita anak-anak yang diteliti; 2 mencari cara-cara praktis  agar nilai-nilai pendidikan karakter mudah tersampaikan kepada anak TK B. Penelitian ini menggunakan pendekatan strukturalisme yang difokuskan pada unsur penokohan. Metode yang dipakai adalah adalah deskriptif analitis.Hasil penelitian ini menunjukkan kedelapan cernak yang diteliti mengandung unsur-unsur pendidikan karakter seperti perlunya peduli atau membantu orang lain, bersikap jujur, kreatif, mau meminta maaf kepada orang lain, dan bekerjasama.Nilai-nilai pendidikan karakter yang tercermin dalam perwatakan tokoh cerita kedelapan cerita anak-anak layak untuk diketahui dan diteladani para siswa.Keunggulan dan kualitas cerita anak-anak semacam itu diperlukan anak.Agar nilai-nilai pendidikan karakter tersebut mudah diterima peserta didik maka seorang guru harus memiliki cara-cara khusus seperti bahasa harus komunikatif, menarik, melibatkan emosi siswa, menggunakan alat peraga, dan memberikan penekanan khusus pada peristiwa-peristiwa yang menarik agar mengundang daya tarik siswa.
Keywords:
child literature, character education, characterization, structural, sastra anak, pendidikan karakter, penokohan, strukturalReferences
Chozin, A. 2001 “‘Layang-layang Keberuntungan,’†Layang-layang Keberuntungan: Kumpulan Cerpen Bobo 35.
Hayati, H. S. 2017a. Gerak Pena dari Kota Baja, Antologi Pemikiran Kritis Pendidikan di Tanah Air. Yogyakarta: Arindo Nusa Media.
Hayati, H. S. 2017b. “Pengaruh Permainan Tradisional, Motivasi Belajar dan Gaya Belajar terhadap Keterampilan Motorik Kasar Anak (Studi Eksperimen pada Taman Kanak-kanak Kelompok B di Provinsi Banten 2016.†Universitas Negeri Jakarta.
Hayati, H. S., Myrnawati, C. dan Asnawi, M. 2017. “‘Effect of Traditional Games, Learning Motivation and Learning Style on Chilhoods Gross Motor Skills,’†International Journal of Education and Research, 5(7).
Hidayati, N. 2009. “Cara Bercerita dan Kekuatan Cerita untuk Anak.†Tersedia pada: www.niahidayati.net/carabercerita-dan-kekuatan-cerita-untuk-anak.html.
Hidayatullah dan Furqon, M. 2015. Mendidik Karakter: Tugas Mulia Pendidik. Solo: Cakra Wijaya.
Jaeni 2017. “‘Nilai-nilai Pengetahuan Lokal Pembentuk Karakter Bangsa dalam Sandiwara Cirebon Jawa Barat,’†Mudra: Jurnal Seni Budaya, 32, hal. 1–8. doi: https://doi.org/10.31091/mudra.v32i1.65.
Majid, A. A. A. 2001. Mendidik dengan Cerita. Bandung: PT Remaja Rosda Karya.
Noor S, W. 2001a. “‘Anak-anak Ayam,’†Layang-layang Keberuntungan: Kumpulan Cerpen Bobo 35.
Noor S, W. 2001b. “‘Botol Minyak,’†Layang-layang Keberuntungan: Kumpulan Cerpen Bobo 35.
Nugroho, D. S. 2003. “‘Kaca Mata Bima,’†Biodata Palsu: Kumpulan Cerpen Bobo 40.
Nurgiantoro, B. 2004. “‘Persoalan Sastra Anak,’†Humaniora: Jurnal ilmu-ilmu Humaniora, 16, hal. 107–122. doi: https://doi.org/10.22146/jh.811.
Nurgiantoro, B. 2005. Sastra Anak : Pengantar Pemahaman Dunia Anak. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Rahayu, T. A. 2003. “‘Gara-gara Ngompol,’†Biodata Palsu: Kumpulan Cerpen Bobo 40.
Rosa, D. 2007. Cerita Rakyat 33 Provinsi dari Aceh sampai Papua: Seri Mengenal Indonesia. Magelang: Indonesia Tera.
Rusyana, A. 2011. 40 Dongeng Paling Menakjubkan: Kumpulan Kisah Teladan Pembangun Karakter Anak. Jakarta: Qultum Media.
S, I. 2001. “‘Korban Keisengan Vega,’†Layang-layang Keberuntungan: Kumpulan Cerpen Bobo 35.
Sabati, S. 2018. “‘Konsep Pendidikan Karakter dalam Buku Pandangan Orang Melayu terhadap Anak Karya Tenas Effendy,’†Jurnal Widyaparwa, 46, hal. 189–204. doi: https://doi.org/10.26499/wdprw.v4612.193.
Sahid, N. 2017. “’’Symbolic Meaning of Drama Perlawanan Diponegoroâ€,†Harmonia: Journal of Arts Research and Education, 16, hal. 153–162. Tersedia pada: http://journal.unnes.ac.id/nju/index.php/harmonia. https://doi.org/10.15294/harmonia.v16i2.7445
Santosa, I. S. 1979. Pembinaan Watak Tugas Utama Pendidikan. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia.
Sarumpaet, R. 2016. “Membangun Karakter Anak Melalui Sastra Anak,†Seminar Sastra Anak yang Diselenggarakan Hiski Komisariat Universitas Ahmad Dahlan dan Hiski Komisariat Balai Bahasa Daerah Istimewa Yogyakarta. Aula Balai Bahasa Yogyakarta.
Sayuti, S. 2001. Berkenalan dengan Prosa Fiksi. Yogyakarta: Gama Media.
Sudjana, N. dan Ibrahim. 2009. Penelitian dan Penilaian Pendidikan. Bandung: Alfabeta.
Suharsimi, A. 2006. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Tarigan, H. G. 2011. Prinsip-prinsip Dasar Sastra. Bandung: Angkasa.
Wahyudin. 2013. “‘Membangun Karakter Bangsa Melalui Pembelajaran Matematika,’†Jurnal Pendidikan, 14, hal. 73–79. doi: https://doi.org/10.33830/jp.v14i2.360.2013.
Wahyuningsih. 2001. “‘Pohon Pengganti,’†Layang-layang Keberuntungan: Kumpulan Cerpen Bobo 35.
Widodo, B. M. 2003. “‘Biodata Palsu,’†Biodata Palsu: Kumpulan Cerpen Bobo 40.


