Abstract
Comparative historical linguistics can show changes in languages that have kinship relationships. Analysis carried out on comparative historical linguistics can be both synchronous and diachronic. Diachronically the Javanese language has changed from time to time, namely Old Javanese, Middle Javanese, and New Javanese which are still actively used by the speakers. This article focuses on examining changes in phonological aspects of Javanese based on a diachronic review. To analyze the innovation and phonological retention of Proto Austronesian in Javanese, the historical-comparative method is used. The findings contained in this article are: (1) the PAN phoneme reflex can produce regular phoneme change rules (primary rules) in addition to sporadic rules (secondary rules) ); (2) there is some retention and innovation on PAN etymon. The retention of the Javanese phoneme to PAN appears in several consonant phonemes such as * / p /, * / b /, * / z /, * / j /, and / q /, and some vowels such as / a /, / i /, and / u /. Meanwhile, other phonemes are experiencing innovation, both innovation in the form of substitution, split, metathesis, mergers, dissimilation, protesis, and reduplication. Phonological and lexical innovations are significantly more dominant than retention.
Linguistik historis komparatif dapat menunjukkan perubahan-perubahan pada bahasa yang memiliki hubungan kekerabatan. Analisis yang dilakukan pada linguistik historis komparatif dapat secara sinkronis maupun diakronis. Secara diakronis bahasa Jawa mengalami perubahan dari masa ke masa yakni dimulai bahasa Jawa Kuno, kemudian bahasa Jawa Tengahan, dan sekarang berkembang bahasa Jawa Baru yang hingga kini masih aktif digunakan oleh penuturnya. Artikel ini berfokus mengkaji perubahan aspek-aspek fonologis pada bahasa Jawa berdasarkan tinjauan diakronis. Metode historis-komparatif digunakan dalam menganalisis fenomena yang terdapat dalam Bahasa jawa terkait inovasi dan retensi fonologis Proto Austronesia. Temuan yang terdapat dalam artikel ini berupa: (1) refleks fonem PAN dapat menghasilkan kaidah perubahan fonem yang teratur (kaidah primer) di samping kaidah sporadis (kaidah sekunder); (2) terdapat beberapa retensi dan inovasi terhadap etimon PAN. Retensi fonem Jawa terhadap PAN tampak pada beberapa fonem konsonan seperti */p/, */b/, */z/, */j/, dan /q/, serta beberapa vokal seperti /a/, /i/, dan /u/. Sementara itu, fonem- fonem lainnya mengalami inovasi, baik inovasi berupa substitusi, split, metatesis, merger, disimilasi, protesis, dan reduplikasi. Secara signifikan inovasi fonologis dan leksikal mendominasi daripada retensi.
Keywords:
comparative historical linguistics, Javanese, diachronic studies, phonological, aspects, inguistik historis komparatif, bahasa Jawa, kajian diakronis, aspek fonologisReferences
Budasi, I. G. (2007). Kekerabatan bahasa-bahasa di Sumba (suatu kajian linguistik historis komparatif). Universitas Gadjah Mada.
Campbell, L. (2013). Historical linguistics. Edinburgh University Press.
Candria. (2022). Telaah Linguistik Historis Komparatif terhadap Bahasa Indonesia, Jawa, Madura, dan Bali. Endogami: Jurnal Ilmiah Kajian An-Tropologi, 6(1), 67–75. https://doi.org/10.14710/endogami.6.1.67-75 https://doi.org/10.14710/endogami.6.2.227-234
Crowly, T. (1997). Introduction to Historical Linguistic. University of Papua New Guinea Press.
Duwila. (2021). Bahasa Ternate dan Bahasa Tidore (Kajian Linguistik Historis Komparatif dan Dialektologi). Tekstual, 19(2), 70–77. https://doi.org/10.33387/tekstual.v19i2.739
Fernandes, I. Y. (1996). Relasi Historis Kekerabatan bahasa Flores. Kajian Linguistik Historis Komparatif terhadap sembilan bahasa di Flores. Nusa Dua.
Fitrah, Y., & Afria, R. (2017). Kekerabatan bahasa-bahasa etnis melayu, batak, sunda, bugis, dan jawa di provinsi jambi: sebuah kajian linguistik historis komparatif. Jurnal Titian, 1(2), 204–218.
Hock, H. H. (1988). Principles of Historical Linguistics. Mouton de Gryter.
Hs, W. (2011). Kajian Bunyi Vokal Bahasa Jawa dalam Lingkungan Multietnis: Study Kasus di Yogyakarta. Widyaparwa, 39(1), 81–94. https://doi.org/10.26499/wdprw.v39i1.29
Ino, L. (2015). Pemanfaatan Linguistik Historis Komparataif Dalam Pemetaan Bahasa-Bahasa Nusantara. Retorika: Jurnal Ilmu Bahasa, 1(2), 365–36. https://doi.org/10.22225/jr.1.2.41.365-378
Keraf, G. (1991). Linguistik Bandingan Historis. Gramedia.
Mualita. (2015). Kekerabatan Bahasa Batak Toba dan Bahasa Batak Angkola Suatu Kajian Linguistik Historis Komparatif. Jurnal Arkhais, 6(1), 46–52. https://doi.org/10.21009/ARKHAIS.061.08
Pangesti. (2018). Perubahan bunyi bahasa jawa: kajian linguistik diakronis bahasa jawa kawi—jawa baru. Prosiding Seminar Nasional Bahasa Dan Sastra Indonesia (Senabasa).
Parera, J. D. (1991). Kajian Linguistik Umum Historis Komparatif dan Tipologi Struktural. Erlangga.
Poedjosoedarmo, S. (1983). Keluarga Besar Bahasa Austronesia. Proyek Javanologi.
Putra, A. A. P. (2007). Segmentasi Dialektal Bahasa Sumba di Pulau Sumba: Suatu Kajian Di-alektologi. Universitas Udayana.
Rizqi, F. A., & Widayati, D. (2021). Perubahan Bunyi Bahasa Proto Aus-tronesia ke dalam Bahasa Jawa Dialek Sumatera (Kajian Linguistik Historis Komparatif). Kulturistik: Jurnal Bahasa Dan Budaya, 5(2), 29–35. https://doi.org/10.22225/kulturistik.5.2.3380
Suharyanto. (2015). Perubahan Fonem dalam Dialek Melayu Ambon (The Phoneme Changing In Malay Ambon Dialect). Widyaparwa, 43(1), 15–24. https://doi.org/10.26499/wdprw.v43i1.102
Ubaidillah, & Norlaili. (2020). Inovasi dan Retensi Fonologis Proto Bahasa Melayu pada Bahasa Melayu Riau Dialek Pesisir. Ranah: Jurnal Kajian Bahasa, 9(1), 141–159. https://doi.org/10.26499/rnh.v9i1.1392


