KEMANFAATAN DAN MAKNA KOSAKATA JAWA KUNO/SANSKERTA DI RUANG PUBLIK
DOI:
10.26499/wdprw.v51i2.1338Downloads
Abstract
Currently, the Javanese Kuno or Sanskrit language has been used to name several government buildings in the Special Region of Yogyakarta. However, the vocabulary is no longer used in daily communication because it is pressed by the use of Javanese, Indonesian, and foreign languages. In fact, the Kuno Javanese language is a cultural heritage that needs to be preserved. For this reason, this study aims to describe the categories, structure, and meaning of Javanese Kuno vocabulary as the name of an institution or institution in DIY. Research data in the form of names of institution/ institutions in the DIY area. Data is collected by photographing and then transliterated. Structural theory with its qualitative approach, distribution method, and technique for direct elements (BUL) is used to analyze data. Based on the results of the analysis, it is known that all names of institutions with elements of classical vocabulary (Javanese, Kuno, and Sanskrit) are categorized as nominal phrases. Elements that are positioned on the far left have the status of being explained, elements that are in the order on the right have the status of explaining, for example Grha Wana Bhakti Yasa. Names in public spaces that use classical vocabulary add at least two elements, such as Sabha Pramana, while the most complex number six elements, such as Kunda Niti Mandala and Tata Sasana. There are three elemental meaning relationships, namely the function meaning relationship, the hope meaning relationship, and the identity meaning relationship. The results of this study can be used as material for determining self-naming policies, implementing conservation, and revitalizing the Kuno Javanese language.
Saat ini bahasa Jawa Kuno atau Sanskerta telah dimanfaatkan untuk menamai beberapa gedung pemerintahan di Daerah Istimewa Yogyakarta. Namun, kosakata tersebut tidak lagi digunakan dalam komunikasi sehari-hari karena terdesak oleh penggunaan bahasa Jawa, bahasa Indonesia, dan bahasa asing. Padahal, bahasa Jawa Kuno merupakan warisan budaya yang perlu dilestarikan. Untuk itu, penelitian ini bertujuan mendeskripsikan kategori, struktur, unsur, dan hubungan makna antarunsur  kosakata Jawa Kuno sebagai nama Lembaga atau institusi  di DIY. Data penelitian berupa nama-nama lembaga/institusi di wilayah DIY. Data dikumpulkan dengan cara difoto kemudian ditransliterasikan. Teori struktural dengan pendekatan kualitatif, metode agih, dan teknik bagi unsur langsung (BUL) digunakan untuk menganalisis data. Berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa semua nama lembaga yang berunsur kosakata klasik (bahasa Jawa Kuno dan Sanskerta) berkategori frasa nominal. Unsur yang berposisi di urutan paling kiri berstatus diterangkan, unsur yang berada di urutan sebelah kanan berstatus menerangkan, misalnya Grha Wana Bhakti Yasa. Nama di ruang publik yang menggunakan kosakata klasik sekurang-kurangnya berjumlah dua unsur, misalnya Sabha Pramana, sedangkan yang paling kompleks berjumlah enam unsur, misalnya Kunda Niti Mandala sarta Tata Sasana. Hubungan makna unsurnya ada tiga, yaitu hubungan makna fungsi, hubungan makna harapan, dan hubungan makna identitas. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan penentuan kebijakan pemberian nama diri, pelaksanaan konservasi, dan revitalisasi bahasa Jawa Kuno.
Keywords:
nominal phrases, explained element, explanatory element, name element, artificial landform, Jawa Kuno, frasa nominal, unsur diterangkan, unsur menerangkan, nama rupa bumi buatanReferences
Aribowo, E. K. (2018). Ancangan Analisis Bahasa Di Ruang Publik: Studi Lanskap Linguistik Kota Surakarta Dalam Mempertahankan Tiga Identitas. Seminar Dan Lokakarya Pengutamaan Bahasa Negara, 256--267. https://doi.org/10.31227/osf.io/qa5p8
Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. (2021). Kamus Bahasa Jawa-Indonesia (Nindwihapsari & N. R. Setyanongsih (eds.); 1st ed.). Balai Bahasa Daerah Istimewa Yogyakarta.
Baryadi, I. P. (2015). Teori-Teori Linguistik Pascastruktural Memasuki Abad Ke-21 (L. Indarwati (ed.)). PT Kanisius. https://doi.org/10.24071/sin.v15i1.3273
Baryadi, I. P. (2021). Perubahan Paradigma dalam Kajian Bahasa.†Jurnal Ilmiah Kebudayaan. Sintesis, 15(1), 67--79.
Griffiths, A. (2021). The sanskrit inscription of śankara and its interpretation in the national history of Indonesia. Bijdragen Tot de Taal-, Land- En Volkenkunde, 177(1), 1–26. https://doi.org/10.1163/22134379-bja10014
Jayanti, A. (2018). Variasi Lanskap Bahasa Ruang Publik di Yogyakarta. Prosiding Seminar Dan Lokakarya Pengutamaan Bahasa Negara “Lanskap Bahasa Ruang Publik: Dimensi Sejarah, Bahasa, Dan Hukum, 258–266.
Kridalaksana, H. (2011). Kamus Linguistik (4th ed.). Gramedia Pustaka Utama.
Latifa, R., & Rahmawati, L. E. (2022). Kesesuaian Penamaan Hotel Berbintang Di Yogyakarta Dengan Peraturan Presiden Nomor 63 Tahun 2019 Pasal 33. Widyaparwa, 50(1), 1--10. https://doi.org/10.26499/wdprw.v50i1.795
Nardilla, A. A. R. (2021). Makna Pepindhan Manusia Dalam Panyandra Upacara Panggih Pengantin Adat Jawa Ragam Surakarta. Widyaparwa, 49(1), 56--67. https://doi.org/10.26499/wdprw.v49i1.680
Peraturan Gubernur DIY Nomor 39. (2015). Peraturan Gubernur DIY No.39 Tahun 2015 tentang Pedoman Pemberian Nama Rupabumi Unsur Buatan (Issue 6).
Prasetyo, A. (2017). Struktur Frasa Papan Nama Hotel-Hotel Di DIY. Prosiding Hasil Penelitian Kebahasaan Dan Kesastraan, 22–29.
Purnami, W. H. (2018). Ranah Pesan Pada Papan Petunjuk Di Objek Wisata Daerah Istimewa Yogyakarta. Widyaparwa, 46(2). https://doi.org/10.26499/wdprw.v46i2.205
Rejeki, S. (2018). Variasi Penggunaan Bahasa Pada Papan Nama Komersial Di Ruang Publik Malioboro. Seminar Dan Lokakarya Pengutamaan Bahasa Negara.
Riani, Nuryantini, Sumarsih, N., Prasetyo, A., Mulyanto, Untara, R., Rijanto, Suhana, Hamro, W., Sugiyarto, J., Setyaningsih, N. R., & Sigit, A. (2016). Penggunaan Bahasa Indonesia Pada Media Luar Ruang di Daerah Istimewa Yogyakarta (T. Suwondo (ed.)). Balai Bahasa Daerah Istimewa Yogyakarta.
Riani, R.-, Khotimah, T. K., & Sumarsih, N. (2022). Revitalization of Javanese in School Environment in Era 4.0: Linguistics Landscape Perspective. RETORIKA: Jurnal Bahasa, Sastra, Dan Pengajarannya, 15(1), 12–23. https://doi.org/10.26858/retorika.v15i1.23822
Ruriana. (2021). Lexeme In Javannese: A Semantic Approach. Medan Bahasa, 15(1), 25--34.
Sudaryanto. (2015). Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa : Pengantar Penelitian. Sanata Dharma University Press.
Sugiyarto, J. (2017). Bahasa Papan Nama Di Yogyakarta Sebagai Ragam Bahasa. Hasil Penelitian Kebahasaan Dan Kesastraan.
Suhandono, S., M. Ramlan, & Poedjosoedarmo, Soepomo Putra, H. S. A. (2012). Leksikon Etnobotani Bahasa Jawa. Humaniora, 16(3). https://doi.org/doi: 10.22146/JH.1303
Sukarman. (2018). Eksistensi Bahasa Jawa di Era Globalisasi. Seminar Nasional Bahasa, Sastra Daerah, Dan Pembelajarannya, 390–401. http://prosiding.upgris.ac.id/index.php/pbsd18/pbsd2018/paper/view/2415
Sukesti, R., A. S., & Prasetyo, A. (2020). Pemetaan penguasaan Bahasa Jawa Krama siswa SMA di Kabupaten Kulon Progo. Balai Bahasa Daerah Istimewa Yogyakarta.
Syahrul, N. (2018). Bahasa Ruang Publik: Representasi Jati Diri Bangsa. Seminar Dan Lokakarya Pengutamaan Bahasa Negara.
Undang-Undang Republik Indonesia. (2009). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan.
Widiyanto, G. (2018). Pemakaian Bahasa Indonesia Dalam Lanskap Linguistik Di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Seminar Dan Lokakarya Pengutamaan Bahasa Negara.
Winter, C., & R. Ranggawarsita. (2007). Kamus Kawi Jawa 1987. Gadjah Mada University Press.
Yance, I. (2018). Bertandang: Pendekatan Budaya Dalam Penegakan Hukum Penggunaan Bahasa Indonesia Di Ruang Publik. Seminar Dan Lokakarya Pengutamaan Bahasa Negara.


