KECENDERUNGAN POLA KALIMAT DALAM TUTURAN LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN: STUDI KASUS PADA TUTURAN DUA KARYAWAN JAWA POS SURABAYA
DOI:
10.26499/wdprw.v48i1.310Downloads
Abstract
This article examines the sentence patterns in the utterance of the young generation of Surabaya, a city with Javanese ngoko language as a daily communication medium. The Topicality Hierarchy and Language Transitivity theory wereemployed to analyze the pattern of sentences in participant speech because of the absence of Krama usage. The data was a conversation between a man and woman who worked as JawaPos Surabaya employee during lunch. The findings show that male participants tend to emphasize the focus of speech on things that are not human because the focus of speech was more on activities and information. But on the contrary, female participant emphasized more on humans because their speech emphasized the agent or the doer. In addition, more definite sentenceswere found in the speech of female participants than male participants. The study also found that female participant speech was more transitive than male participant speech. The findings also suggests that in comparison to the female participant’s speech, the male participant’s speech shows a stronger influence on the object of the sentence in contrast to the number of agents he used in his speech.
Artikel ini mengkaji pola kalimat pada ujaran dua penutur muda Bahasa Jawa di Surabaya, sebuah kota dengan bahasa Jawa ngoko sebagai media komunikasi sehari-hari. Teori Topicality Hierarchy dan Language Transitivity digunakan untuk menganalisis pola kalimat dalam tuturan partisipan karena ketiadaan penggunaan kromo. Data merupakan percakapan seorang laki-laki dan perempuan yang bekerja sebagai karyawan Jawa Pos Surabaya ketika bercakap-cakap saat makan siang. Data diambil menggunakan perekam suara. Temuan yang ada menunjukkan bahwa partisipan laki-laki cenderung menitikberatkan fokus tuturan pada hal yang bukan manusia karena fokus tuturan lebih ditekankan pada kegiatan dan keterangan. Namun sebaliknya, partisipan perempuan lebih menekankan kepada manusia karena tuturannya menekankan pada agent atau pelaku kegiatan. Selain itu, lebih banyak ditemukan kalimat definite dalam tuturan partisipan perempuan daripada partisipan laki-laki. Kajian ini juga menemukan bahwa tuturan partisipan perempuan lebih transitif daripada tuturan partisipan laki-laki. Selain itu, dibandingkan dengan tuturan partisipan perempuan, tuturan partisipan laki-laki menunjukkan pengaruh yang lebih kuat terhadap objek kalimat berlawanan dengan jumlah agent yang digunakannya dalam tuturannya.
Artikel ini mengkaji pola kalimat pada ujaran dua penutur muda Bahasa Jawa di Surabaya, sebuah kota dengan bahasa Jawa ngoko sebagai media komunikasi sehari-hari. Teori Topicality Hierarchy dan Language Transitivity digunakan untuk menganalisis pola kalimat dalam tuturan partisipan karena ketiadaan penggunaan kromo. Data merupakan percakapan seorang laki-laki dan perempuan yang bekerja sebagai karyawan Jawa Pos Surabaya ketika bercakap-cakap saat makan siang. Data diambil menggunakan perekam suara. Temuan yang ada menunjukkan bahwa partisipan laki-laki cenderung menitikberatkan fokus tuturan pada hal yang bukan manusia karena fokus tuturan lebih ditekankan pada kegiatan dan keterangan. Namun sebaliknya, partisipan perempuan lebih menekankan kepada manusia karena tuturannya menekankan pada agent atau pelaku kegiatan. Selain itu, lebih banyak ditemukan kalimat definite dalam tuturan partisipan perempuan daripada partisipan laki-laki. Kajian ini juga menemukan bahwa tuturan partisipan perempuan lebih transitif daripada tuturan partisipan laki-laki. Selain itu, dibandingkan dengan tuturan partisipan perempuan, tuturan partisipan laki-laki menunjukkan pengaruh yang lebih kuat terhadap objek kalimat berlawanan dengan jumlah agent yang digunakannya dalam tuturannya.Keywords:
bahasa Jawa, gender, dialek Surabaya, topicality hierarchy, transitivityReferences
Aijón Oliva, A. Miguel., and MarÃa José Serrano. 2016. A matter of style: Gender and subject variation in Spanish. Gender and Language, 10(2):240-269
https://doi.org/10.1558/genl.v10i2.18325
Brenner, S. A. 1995. Why Women Rule the Roost: Rethinking Javanese Ideologies of Gender and Self-Control. In A. Ong, & M. G. Peletz, Bewitching Women, Pious Men: Gender and Body Politics in Southeast Asia (pp. 19-50). Los Angeles: University of California Press.
DeLancey, S. 1981. An Interpretation of Split Ergativity and Related Patterns. Language, 57(3): 626-57
https://doi.org/10.2307/414343
Duranti, A. 1997. Linguistic Anthropology. Cambridge: Cambridge University Press.
https://doi.org/10.1017/CBO9780511810190
Friedan, B. 1977. The Feminine Mystique. New York: Dell Publishing Co., Inc.
Hopper, P, and Thompson, SA. 1980. Transivitity in Grammar and Discourse. Language, 56: 251-99.
https://doi.org/10.1353/lan.1980.0017
Kramer, C. 1975. Women's speech: Separate but unequal? In B. Thome & N. Henley (eds.), Language and sex: Difference and dominance. Rowley, Mass.: Newbury House. 43-56.
Kuntjara, E. 2001. Gender in Javanese Indonesian. In A. D. Houwer, Gender Across Languages: The linguistic representation (pp. 199-228). Amsterdam: John Benjamins Publishing Co.
https://doi.org/10.1075/impact.9.14kun
Labov, W. 1968. The social stratification of English in New York city. Center for Applied Linguistics.
Lakoff, R. 1975. Language and Women's Place. New York: Harper and Row.Givón, T. 1976. Topic, Pronoun, and Grammatical Agreement. In C. N. Li (ed.), Subject and Topic (pp. 149-88). New York: Academic Press
Smith-Hefner, N. J. 1988. Women and politeness: The Javanese example. Language in Society, 17(04), 535-554.
https://doi.org/10.1017/S0047404500013087
Sumadi, Sumadi. 2010. Tipe Kalimat Inversi Dalam Bahasa Jawa Ngoko. Widyaparwa 38, no. 2: 127-134.
Tatsumi, T. 2013. Inversion in Sayula Popoluca. è¨€èªžç ”ç©¶ (Gengo Kenkyu), 144, 83-101.
Wedhawati. 1986. Klausa Relatif Bahasa Jawa. Widyaparwa 28: 28-50.
Woolard, A. Kathryn. 2008. Why dat now?: Linguisticâ€anthropological contributions to the explanation of sociolinguistic icons and change 1. Journal of Sociolinguistics, 12(4), 432-452.


