Vol. 51 No. 2 (2023)
Open Access
Peer Reviewed

TOKOH PANAKAWAN SEBAGAI SARANA PEMBANGUN WACANA KRITIK SOSIAL PADA PERTUNJUKAN WAYANG KULIT DI MEDIA YOUTUBE

Authors

Imam Prakoso

DOI:

10.26499/wdprw.v51i2.1179

Downloads

Received: 2022-10-14
Accepted: 2023-06-28
Published: 2023-12-30

Abstract

The presence of panakawan in the shadow puppet show with its own dynamics. Now they are no longer limited as complementary instruments in the dramatic structure of wayang performances. Panakawan is now also interpreted as a reformer in wayang presentation, such as the use of characters who are naive, witty, and sometimes talk as they are. The identification of his figure which is interpreted as a small people also provides a new color for the development of wayang kulit performances. This study discusses the discourse of social criticism that is built from the language style of the panakawan figures. The style of language that is seen is from the use of figure of speech, the strategy of sentence structure, and the selection of diction. The results of this study indicate that there is social criticism that discusses problems in the realm of development, education, law, dirty political behavior of public officials, culture, and morals. The criticism is conveyed both explicitly and implicitly through the use of figure of speech, scrutinizing sentence structure, and choice of diction. All these criticisms were conveyed by panakawan who were represented as small people against other figures such as kings or gods who were represented as leaders or public officials.


Kehadiran panakawan di dalam pertunjukan wayang kulit diwarnai dengan dinamikanya tersendiri. Kini mereka tidak lagi sebatas instrumen pelengkap di dalam struktur dramatik pertunjukan wayang. Panakawan kini juga dimaknai sebagai sosok pembaharu dalam sajian wayang, seperti pe-manfaatan karakter yang lugu, jenaka, dan terkadang berbicara apa adanya. Identifikasi terhadap sosoknya yang dimaknai sebagai rakyat kecil juga memberikan warna baru bagi perkembangan pertunjukan wayang kulit. Penelitian ini membahas tentang wacana kritik sosial yang dibangun dari gaya bahasa pada tokoh panakawan. Adapun gaya bahasa yang dilihat yaitu dari pemanfaatan majas, penyiasatan struktur kalimat, serta pemilihan diksi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat kritik sosial yang membahas permasalahan dalam ranah pembangunan, pendidikan, hukum, perilaku politik kotor para pejabat publik, budaya, serta moral. Kritik tersebut disampaikan baik secara eksplisit maupun implisit melalui pemanfaatan majas, penyiasatan struktur kalimat, serta pilihan diksi. Seluruh kritik tersebut disampaikan oleh panakawan yang direpresentasikan sebagai rakyat kecil terhadap tokoh lain, seperti raja atau dewa yang direpresentasikan sebagai pe-mimpin atau pejabat publik.

Keywords:

discourse, social criticism, stylistics, shadow puppet, panakawan, wacana, kritik sosial, gaya bahasa, wayang kulit

References

Cohen, Matthew Isaac. 2014. “Wayang Kulit Tradisional Dan Pasca-Tradisional Di Jawa Masa Kini.†Jurnal Kajian Seni 1(1). https://doi.org/10.22146/art.5965

Cohen, Matthew Isaac. 2019. “Wayang in Jaman Now: Reflexive Traditionaliza-tion and Local, National and Global Networks of Javanese Shadow Puppet Theatre.†Theatre Research International 44(1). https://doi.org/10.1017/S0307883318000834

Gono, Joyo Nur Suryanto, & Wiwied Noor Rakhmad. 2021. “Pandangan Penonton Tentang Wayang Kulit di Kanal Youtube.†Biokultur 10(2). https://doi.org/10.20473/bk.v10i2.31265

Jorgensen, Marianne W., & Louise J. Phil-lips. 2010. Analisis Wacana: Teori dan Metode. 5th ed. edited by A. S. Ibrahim. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Keraf, Gorys. 2006. Diksi dan Gaya Bahasa. Gramedia Pustaka Utama.

Mrázek, Jan. 2019. “Wayang and Its Dou-bles: Javanese Puppet Theatre, Televi-sion and the Internet.†https://doi.org/10.2307/j.ctv136c5z1

Ningtias, Eko P. 2017. “Identitas dan Kritik Sosial Pada Komunitas Wayang Beber Kota di Solo.†Universitas Brawijaya, Malang.

Nurgiantoro, Burhan. 2014. Stilistika. Gad-jah Mada University Press.

Pradopo, Rachmat Djoko. 2021. Stilistika. Gadjah Mada University Press.

Prakoso, Imam. 2021. “Ketidaksantunan Tu-turan Tokoh Bagong Sebagai Pemben-tuk Wacana Humor Dalam Pertun-jukan Wayang Kulit Ki Seno Nugroho.†Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Pramudiyanto, Ahmad, Supana Supana, & Muhammad Rohmadi. 2018. “Charac-teristic of Wong Cilik on Wayang Kulit Wanda of Panakawan Figures.†Hu-manus 17(2):174. https://doi.org/10.24036/humanus.v17i2.100683

Siswanto, Nurhadi. 2018. “Perubahan Dan Perkembangan Panakawan Dalam Pe-wayangan.†Corak 7(1):1–12. https://doi.org/10.24821/corak.v7i1.2638

Situmorang, Setyabudhi Rahardjo. 2015. “Strategi Pemasaran Wayang Kam-pung Sebelah.†Jurnal Tata Kelola Seni 1(2):82–100. https://doi.org/10.24821/jtks.v1i2.1643

Sudaryanto. 2015. “Metode Dan Aneka Teknik Analisis Bahasa: Pengantar Penelitian Wahana Kebudayaan Secara Linguistis.â€

Suhapsari, Reni A. 2016. “Wayang Kon-temporer Sebagai Media Kritik Sosial (Studi Kasus Pertunjukan Wayang Hip Hop dari Desa Ngestiharjo, Kasihan, Bantul Sebagai Media Kritik Sosial).†Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Suwija, I. Nyoman. 2012. “Bentuk Kemasan Wacana Kritik Sosial Pertunjukan Wayang Kulit Cenk Blonk Lakon Diah Gagar Mayang.†Linguistika: Buletin Ilmiah Prodi Linguistik Universitas Uda-yana 12:1–9.

Author Biography

Imam Prakoso, Universitas Gadjah Mada

Downloads

Download data is not yet available.

Metrics

Metrics Loading ...

How to Cite

Prakoso, I. (2023). TOKOH PANAKAWAN SEBAGAI SARANA PEMBANGUN WACANA KRITIK SOSIAL PADA PERTUNJUKAN WAYANG KULIT DI MEDIA YOUTUBE. Widyaparwa, 51(2), 307–336. https://doi.org/10.26499/wdprw.v51i2.1179

Most read articles by the same author(s)

Similar Articles

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 > >> 

You may also start an advanced similarity search for this article.