LEKSIKOSTATISTIK DAN GLOTOKRONOLOGI BAHASA BERAU DENGAN BAHASA MINANGKABAU
DOI:
10.26499/wdprw.v51i2.1410Downloads
Abstract
This study is a lexicostatistical and glottochronological study that aims to classify words by prioritizing time calculations or calculating the age of relatives’ languages. This research is focused on Berau and Minangkabau languages. The people who speak the Berau Language are people of the Berau tribe in Berau District, East Kalimantan. Meanwhile, the Minangkabau language is spoken by people in the Province of West Sumatra (except the Mentawai Islands), western Riau Province, and Negeri Sembilan, Malaysia. The collection phase used the referential equivalent method, the data analysis stage used the lexicostatistical and glotochronological methods. Moreover, the results of data analysis used informal and formal methods. The theory used is sound correspondence, lexicostatistics, and glottochronology. The analysis shows some points such as 37 pairs of identical, 46 pairs of phonemic correspondences, 1 pair of different phonemes, and 44 pairs of similar forms. Lexicostatistical calculations show that the percentage of kinship between Berau and Minangkabau languages is 67%. Berau and Minangkabau languages were single languages in 1.053–787 years ago. Berau and Minangkabau languages have been separated from the proto-language between 970–1.236 BC (calculated from 2023).
Kajian ini merupakan kajian leksikostatistik dan glotokronologi yang bertujuan mengelompokkan kosakata kerabat dengan menekankan perhitungan waktu pisah atau usia bahasa kerabat. Penelitian ini menitikberatkan pada bahasa Berau dengan bahasa Minangkabau. Bahasa Berau dituturkan oleh masyarakat yang ada di suku Berau, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Adapun bahasa Minangkabau dituturkan oleh masyarakat di wilayah Provinsi Sumatera Barat (kecuali Kepulauan Mentawai), bagian barat Provinsi Riau, dan Negeri Sembilan, Malaysia. Tahap pengumpulan menggunakan metode padan referensial, tahap analisis data menggunakan metode leksikostatistik dan glotokronologi. Adapun metode penyajian hasil analisis data menggunakan metode informal dan formal. Teori yang digunakan yaitu korespondensi bunyi, leksikostatistik, dan glotokronologi. Hasil analisis diperoleh 37 pasangan identik, 46 pasangan korespondensi fonemis, 1 pasang fonem berbeda, dan 44 pasangan bentuk mirip. Penghitungan leksikostatistik menunjukkan bahwa persentase kekerabatan bahasa Berau dan bahasa Minangkabau sebanyak 67%. Bahasa Berau dan bahasa Minangkabau merupakan bahasa tunggal pada 1.053–787 tahun yang lalu. Bahasa Berau dan bahasa Minangkabau mulai berpisah dari bahasa proto antara 970 SM–1.236 SM (dihitung dari tahun 2023).
Keywords:
lexicostatistics, Berau language, Minangkabau language, leksikostatistik, bahasa Berau, bahasa MinangkabauReferences
Adelaar, K. A. (1994). Bahasa Melayik Purba: Rekonstruksi Fonologi dan Sebagian dari Leksikon dan Morfologi. Pusat Pem-binaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Ke-budayaan Republik Indonesia dan Universitas Leiden Belanda.
Ahmadi, Y., Stkip, F., & Bandung, S. (2017). Hubungan Kekerabatan Bahasa Minang dan Bahasa Sunda: Kajian Linguistik Bandingan Historis. Jurnal Ilmiah Semantik Program Studi Pendidi-kan Bahasa dan Sastra Indonesia, 71–88.
Burhanuddin, E., & Zabadi, F. (2013). Ka-mus Bahasa Indonesia-Minangkabau Edi-si Revisi. Balai Bahasa Provinsi Su-matera Barat.
Chucu, J. (2003). Dialek Melayu Brunei dalam Salasilah Bahasa Melayu Purba. Univer-siti Kebangsaan Malaysia.
Crowley, T. (1987). An Introduction to Histor-ical Linguistics. University of Papua New Guinea Press.
Febianti, D. (2017). Taraf Kognat Bahasa In-donesia dan Bahasa Berau. Universitas Pendidikan Indonesia.
Hafizah, H. (2018). Leksikostatistik Bahasa Indonesia dengan Bahasa Minang Di-alek Bukittinggi (Kajian Linguistik Historis Komparatif). DEIKSIS, 10(03), 247–254. https://doi.org/10.30998/deiksis.v10i03.2757
Hutri, K., & Widayati, D. (2019). Hubungan Kekerabatan antara Bahasa Minangkabau, Bahasa Karo, dan Ba-hasa Gayo. Arkhais, 10(1), 19–29.
Keraf, G. (1984). Linguistik Bandingan Histor-is. PT Gramedia.
Kurniawati, W., & dkk. (2002). Kosakata Da-sar Swadesh di Kabupaten Berau, Kota-madya Samarinda dan Kotamadya Balik-papan. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional.
Mahendra, D., & Hendrokumoro, H. (2022). Relasi Kekerabatan Bahasa Sasak dan Bahasa Banjar. Deiksis, 14(2), 125. https://doi.org/10.30998/deiksis.v14i2.10316
Mayangsari, D. (2020a). Kekerabatan Bahasa Geser dan Bahasa Melayu Ambon [Tesis]. Universitas Gadjah Mada.
Mayangsari, D. (2020b). Leksikostatistik Bahasa Bugis dan Bahasa Toraja. Jala-bahasa, 16(1), 83–96. https://doi.org/10.36567/jalabahasa.v16i1.471
Rina, N., & Mariati. (2018). Hubungan Kekerabatan Bahasa Minangkabau Tapan dengan Bahasa Kerinci Sungai Penuh. Gramatika STKIP PGRI Su-matera Barat, 4(1). https://doi.org/10.22202/jg.2018.v4i1.2327
Rusmali, M., & dkk. (1985). Kamus Minangkabau-Indonesia. Pusat Pem-binaan dan Pengembangan Bahasa.
Schulze, F., & Holger, W. (2006). Insular Southeast Asia: Linguistic and Cultural Studies in Honour of Bernd Nothofer. Ot-to Harrassowitz Verlag.
Sofiyatunnida, & Hendrokumoro. (2021). Leksikostatistik Bahasa Mandailing dan Bahasa Melayu. NUSA, 16(2), 165–180.
Sudaryanto. (2015). Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa. Sanata Dharma Uni-versity Press.
Wahab, M. K. A., & Halin, A. K. C. (2021). Leksikostatistik dan Glotokronologi antara Bahasa Banjar dengan Bahasa Melayu: Kajian Linguistik Sejarah dan Perbandingan. Dalam Jurnal Kesidang Kesidang Journal (Vol. 6, Nomor 2021).
Wurm, S. A., & Wilson, B. (1975). English Finderlist of Reconstructions in Austrone-sian Language. The Australian Nation-al University.


