Vol. 52 No. 2 (2024)
Open Access
Peer Reviewed

LEKSIKON FLORA DAN FAUNA PADA PERIBAHASA MINANG: KAJIAN EKOLINGUISTIK

Authors

Mellinda Raswari Jambak , Abdul Muntaqim Al Anshory

DOI:

10.26499/wdprw.v52i2.1551

Downloads

Received: 2023-12-19
Accepted: 2024-12-09
Published: 2024-12-31

Abstract

The relationship between humans and their environment, especially flora and fauna, produces a language in the form of proverbs. The Minang tribe has its own proverbs that have a relationship with the surrounding nature. The formation of these proverbs is none other than because of human relationships with the surrounding environment. This research aims to describe (1) the category and grammatical form of flora and fauna lexicons in Minang proverbs, (2) the metaphorical dialog model of Minang proverbs containing flora and fauna lexicons, and (3) the praxis dimension of Minang proverbs containing flora and fauna lexicons. This research employs ecolinguistics theory as an analytical tool. Ecolinguistics is a term resulting from the combination of two words, ecology and linguistics. The term refers to the study of languages in relation to their environmental contexts. Primary data sources come from interviews with one of the leaders of the Jambak tribe in Malalo, West Sumatra. Meanwhile, other data sources come from journals and books relevant to the research. The research used qualitative methods. In collecting data, researchers used interview and note-taking techniques. While data analysis techniques, researchers used the Miles and Huberman model, namely data reduction, data exposure, and conclusion drawing. The result of this research is that there are  flora and fauna lexicons from nine Minang proverbs. Flora lexicons are rice, weeds, cikarau, anau, and mingkudu. Fauna lexicons such as kabau, monitor lizard, bilalang, mancik, and ula. These ten lexicons are in the form of nouns and root words. There are three aspects of the environment or TOPOS: space, place and time. These three aspects have certain patterns and references. The praxis dimension in Minang proverbs is recorded in three praxis dimensions, namely the idological dimension (the Minang tribe's understanding of the flora and fauna lexicon), the social dimension (the relationship between the Minang people and nature), and the biological dimension (describing the biological characteristics of the flora and fauna lexicon).

Hubungan manusia dengan lingkungan khususnya flora dan fauna menghasilkan sebuah bahasa berupa peribahasa. Suku Minang memiliki peribahasa tersendiri yang memperlihatkan hubungan mereka dengan alam sekitarnya. Pembentukan peribahasa tersebut tidak lain karena hubungan manusia dengan lingkungan sekitarnya. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) kategori dan bentuk gramatikal dari leksikon-leksikon flora dan fauna dalam peribahasa Minang, (2) model dialog metafora peribahasa Minang yang mengandung leksikon flora dan fauna, dan (3) dimensi praksis peribahasa Minang yang mengandung leksikon flora dan fauna. Penelitian ini menggunakan teori ekolinguistik sebagai pisau analisis yang  merupakan hasil penggabungan dua kata, yakni ekologi dan linguistik. Istilah itu mengacu pada pengkajian terhadap bahasa-bahasa yang terkait dengan lingkungan. Sumber data primer berasal dari hasil wawancara dengan salah satu pemuka suku Jambak di Malalo, Sumatera Barat. Sedangkan sumber data lainnya berasal dari jurnal dan buku yang relevan dengan penelitian. Penelitian menggunakan metode kualitatif. Dalam pengumpulan data, peneliti menggunakan teknik wawancara dan catat. Pada analisis, peneliti menggunakan model Miles dan Huberman, yaitu reduksi data, pemaparan data, dan penarikan kesimpulan. Adapun hasil dari penelitian ini ialah terdapat sembilan leksikon flora dan fauna dari sembilan peribahasa Minang. Leksikon flora, yaitu padi, ilalang, cikarau, anau, dan mingkudu. Leksikon fauna seperti kabau, biawak, bilalang, mancik, dan ula. Sembilan leksikon ini berupa nomina dan kata dasar. Terdapat tiga aspek lingkungan atau TOPOS yaitu ruang, tempat, dan waktu. Tiga aspek ini memiliki pola-pola dan acuan tertentu. Adapun dimensi praksis dalam peribahasa Minang terekam dalam tiga dimensi praksis, yaitu ideologis (pemahaman suku Minang terhadap leksikon flora dan fauna), sosiologis (hubungan masyarakat Minang dengan alam), dan biologis (menggambarkan ciri-ciri biologis dari leksikon flora dan fauna).

Keywords:

ecolinguistics, flora, fauna, proverbs, minang tribe, ekolinguistik, Flora, Fauna, Peribahasa, Suku Minang

References

Abdussamad, Z. (2021). Metode Penelitian Kualitatif. Makassar: Syakir Media Press. https://doi.org/10.31219/osf.io/juwxn

Adliza, A., Oktavianus, O., & Usman, F. (2021). Leksikon Verba dan Nomina Bahasa Tanjung Pucuk Jambi Kabupaten Tebo Provinsi Jambi dalam Lingkungan Perladangan: Kajian Ekolinguistik. LINGUA : Jurnal Bahasa, Sastra, Dan Pengajarannya, 18(1), 48–61. https://doi.org/10.30957/LINGUA.V18I1.671

Aji, D., & Putra, K. (2023). Ecolinguistic study on environmental discourse in senior high school (MA/SMA) Indonesian textbook. KEMBARA: Jurnal Keilmuan Bahasa, Sastra, Dan Pengajarannya , 9(1), 124–134. https://doi.org/10.22219/kembara.v9i1.22561

Ardiel, V. (2021). Analisis Intratekstual Leksikon Dalam Tradisi Maambiak Ari Bercocoktanam Padi Di Nagari Jaho Kabupaten Tanah Datar: Tinjauan Ekolinguistik. Jurnal Nan Tongga Health And Nursing, 16(1), 78–101. Retrieved from https://doi.org/10.59963/nthn.v16i1.83

Bayu, M., & Nala, A. (2022). Lexicon erosion of weaving fields in bali. The International Journal of Social Sciences World (TIJOSSW), 4(2), 396–402. https://doi.org/10.5281/zenodo.7546578

Fauzi, M., & Hermansyah. (2021). REPRESENTASI, RELASI, DAN IDENTITAS UNDANG-UNDANG LAUT: KAJIAN EKOLINGUISTIK KRITIS. Jurnal Ilmu Budaya, 17(2), 131–147. https://doi.org/10.31849/jib.v17i2.6241

Jalaluddin, N. H. (2023). ELEMEN BAHASA, BUDAYA DAN PERSEKITARAN DALAM EKOLINGUISTIK. RENTAS: Jurnal Bahasa, Sastera Dan Budaya, 2(1), 1–21. https://doi.org/10.32890/rentas2023.2.1

Mastawati, N. (2020). LEKSIKON FLORA PADA BOLANAFO BAGI GUYUB TUTUR NIAS KAJIAN EKOLINGUISTIK. JURNAL EDUCATION AND DEVELOPMENT, 8(2), 257–257. Retrieved from https://journal.ipts.ac.id/index.php/ED/article/view/1691

Miles, M. B., & Huberman, A. M. (1992). Analisis data kualitatif : buku sumber tentang metode-metode baru. Jakarta: UI-Press.

Panggabean, J. I. (2021). Maintaining Marine Lexicon in Coastal Language Sibolga, Pondok Batu Village, Sarudik District, Ecolinguistic Studies. L’Geneus : The Journal Language Generations of Intellectual Society, 10(3), 87–93. https://doi.org/10.35335/GENEUS.V10I3.2163

Putra, W., Widayati, D., Dardanila, & Amanda, S. (2021). Leksikon kegulmaan pada masyarakat Jawa di Perkebunan Fajar Agung, Kecamatan Pegajahan, Kabupaten Serdang Bedagai: Kajian ekolinguistik. KEMBARA: Jurnal Keilmuan Bahasa, Sastra, Dan Pengajarannya, 7(1), 198–215. https://doi.org/10.22219/kembara.v7i1.15432

Putri, A. K., Fitriah, S., Amri, U., & Putra, Y. M. (2022). Animal Metaphors in Kendrick Lamar’s Song Lyrics: An Ecolinguistics Study. Islamic Manuscript of Linguistics and Humanity, 4(2), 60–72. Retrieved from https://ejournal.uinib.ac.id/jurnal/index.php/imlah/article/view/5066. https://doi.org/10.22437/est.v2i1.24563

Sanjaya, F. O., & Rahardi, R. K. (2021). Kajian Ekolinguistik Metaforis Nilai-Nilai Kearifan Lokal Upacara Pernikahan Adat Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur. Deiksis : Jurnal Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia, 7(2), 12–28. https://doi.org/10.33603/deiksis.v7i2.3283

Sujana, A. (2007). Kamus Lengkap Biologi. Jakarta: Mega Aksara.

Suktiningsih, W. (2016). Dimensi Praksis Dan Model Dialog Leksikon Fauna Masyarakat Sunda: Kajian Ekolinguistik. RETORIKA: Jurnal Ilmu Bahasa, 2(1), 142–160. https://doi.org/10.22225/jr.2.1.54.142-160

Suktiningsih, W. (2017). Dimensi Praksis Dan Model Dialog Leksikon Fauna Masyarakat Sunda: Kajian Ekolinguistik. RETORIKA: Jurnal Ilmu Bahasa, 2(1), 142. https://doi.org/10.22225/jr.2.1.54.142-160

Suparman, Yadnya, I. B. P., Simpen, I. W., & Satyawati, M. S. (2021). The Flora and Fauna Lexicons within the Ama Samawa of Sumbawa Society in Indonesia. The International Journal of Language and Cultural (TIJOLAC), 3(01), 29–35. https://doi.org/10.5281/zenodo.4644652

Syahrani, A., Asfar, D. A., Lubna, S., & Febrianti, B. K. (2021). Leksikon Gejala Covid-19 dalam Bahasa-Bahasa Bidayuhik di Kalimantan Barat. Ranah: Jurnal Kajian Bahasa, 10(2), 341–353. https://doi.org/10.26499/rnh.v10i2.4068

Wati, B. M., & Amri, U. (2020). Peribahasa Negasi Minangkabau Di Nagari Batipuah Baruah Kabupaten Tanah Datar. Islamic Manuscript of Linguistics and Humanity, 2(1), 70–80. Retrieved from https://ejournal.uinib.ac.id/jurnal/index.php/imlah/article/view/1897

Author Biographies

Mellinda Raswari Jambak, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Bahasa dan Sastra Arab

Abdul Muntaqim Al Anshory, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Bahasa dan Sastra Arab

Downloads

Download data is not yet available.

Metrics

Metrics Loading ...

How to Cite

Jambak, M. R., & Al Anshory, A. M. (2024). LEKSIKON FLORA DAN FAUNA PADA PERIBAHASA MINANG: KAJIAN EKOLINGUISTIK. Widyaparwa, 52(2), 411–425. https://doi.org/10.26499/wdprw.v52i2.1551

Most read articles by the same author(s)

Similar Articles

1 2 > >> 

You may also start an advanced similarity search for this article.